bungeko.blog

Catatan Sepak Bola Bung Eko

  • Home
  • About
  • Subscribe By RSS
You are here : bungeko.blog
Agu 06

Banyak Jalan Menuju Roma

Published By bungeko under PSSI Watch  Tags: Arifin Panigoro, PSSI  

BANYAK jalan menuju Roma. Mungkin inilah yang menjadi prinsip Arifin Panigoro (AP) dan George Toisutta (GT) beserta gerombolannya. Demi ambisi menguasai PSSI, mereka mau bersusah-payah menempuh segala macam cara, sekalipun menabrak aturan.

Ibarat aliran air, AP-GT dan G-78 tidak mau langkahnya dihambat oleh siapapun. Cobalah halangi aliran air. Ditutup dari depan, air akan berganti arah ke samping dan mencari jalan lain. Sumbatlah seluruh jalan di depan dan kiri-kanannya, maka air akan meluap naik ke atas untuk melewati penghalangnya. Dibendung habis sekalipun air masih bisa mengalir, meski hanya berupa rembesan kecil.

Demikian juga dengan AP-GT plus G-78. Setelah CAS dianggap tidak bisa diharapkan untuk menggoyang ketetapan FIFA yang melarang AP-GT maju dalam pemilihan ketua umum PSSI 2011-2015, mereka mendatangkan Prince Ali bin al-Hussein, salah satu Wakil Presiden FIFA.

Bin Hammam Kedua?

Memakai kacamata paling awam sekalipun jelas terbaca apa tujuan kubu Jenggala mendatangkan pangeran dari Yordania tersebut. Sebagai Wakil Presiden FIFA, Prince Ali diharapkan bisa membuat FIFA berubah sikap. Pertanyaannya, apakah di FIFA juga mengenal birokrasi kolutif seperti di Indonesia?

Sayangnya, AP nampaknya kembali harus gigit jari. Meski memegang jabatan tertinggi kedua di FIFA, nyatanya Prince Ali tak memahami apa yang terjadi di PSSI. Ini terlihat ketika ia bertanya kenapa AP dan GT tidak boleh maju dalam kongres kepada Ketua Komite Normalisasi, Agum Gumelar.

Alih-alih membantu masalah AP, bisa jadi malah Prince Ali yang dapat masalah. Jika Sepp Blatter menganggap wakilnya itu menyimpang dari koridor FIFA, nasib sang pangeran besar kemungkinan bakal seperti Mohammed bin Hammam (Presiden AFC) dan Jack Warner (Presiden CFU-Concacaf).

Peluang ke arah itu amat besar. Bila Bin Hammam dan Warner dihukum Komite Etik FIFA karena pendekatan ilegal ke sejumlah pemilik hak suara yang mengarah pada penyuapan, Prince Ali dapat dijerat dengan kasus pelanggaran Statuta FIFA. Pencekalan AP-GT adalah keputusan final FIFA, dan secara tersirat sang pangeran bermaksud melawan keputusan tersebut. Tindakan ini tentu saja tidak dapat dibenarkan, karena sebagai wakil presiden FIFA ia seharusnya mendukung kewibawaan FIFA dengan menegakkan keputusan tersebut.

Belajar dari Nirwan Bakrie

Bagi AP sendiri, mendatangkan Prince Ali untuk menolong kepentingannya semakin membuat publik merasa antipati. Ya, di satu sisi kita dibuat kagum dengan kegigihan pengusaha Bandung ini. Tapi di sisi lain, dugaan bahwa majunya AP merupakan kepentingan kelompok politik tertentu menjadi tambah jelas terlihat.

Ada baiknya AP belajar dari Nirwan Bakrie (NB). Ketika dilarang FIFA maju dalam pencalonan ketua umum PSSI, NB dengan besar hati menerima keputusan tersebut. Ia bahkan mendatangi KN untuk memberikan dukungan moral, sekaligus mengatakan dirinya tetap berkomitmen memajukan sepak bola nasional meski tak duduk di kepengurusan PSSI.

Tak sekedar lip service, NB membuktikan ucapannya dengan terus membiayai program SAD di Uruguay. Ia juga bersedia membantu membayar sebagian gaji pelatih timnas Alfred Riedl yang tak kuat ditanggung sendirian oleh Satlak Prima. Dan, demi membuka jalan bagi pesepak bola nasional ke pentas Eropa, klub Liga Belgia pun ia beli melalui salah satu unit usahanya.

Jika benar-benar ingin memajukan sepak bola nasional, seharusnya AP sadar bahwa mematuhi keputusan FIFA adalah langkah terbaik. Ingat, banyak jalan menuju Roma. Memajukan sepak bola nasional tak harus dengan menjadi ketua umum PSSI.

Eko Nurhuda,

http://www.bungeko.com

blogger, pecinta sepak bola.

1 Comments
Agu 06

Harapan Wanita Pada PSSI

Published By bungeko under PSSI Watch    

DARI sembilan anggota Komite Eksekutif PSSI 2011-2015 yang terpilih dalam KLB di Solo lalu, sebagai seorang wanita saya merasa bangga melihat ada satu anggota wanita dalam sosok Tuty Dau.

Sebagai induk organisasi olah raga yang didominasi kaum pria, selama ini PSSI tampak mengabaikan peran kaum wanita. Ini terlihat dari tidak adanya sosok wanita dalam susunan kepengurusan inti PSSI. Padahal PSSI juga menangani sepak bola wanita. Timnas wanita juga sudah cukup lama berkiprah di kompetisi antarnegara. Sayang, kiprah para Srikandi ini kalah mentereng dari timnas pria.

Apakah ketiadaan sosok perempuan di level atas kepengurusan PSSI ini yang menyebabkan timnas wanita lambat berkembang, dan bahkan terkesan kurang—kalau tidak mau dikatakan tidak—diperhatikan? Bisa jadi.

Perubahan

Kalau saya tak salah, Tuty Dau merupakan wanita pertama yang menjadi anggota Komek sepanjang sejarah PSSI. Terpilihnya Ketua Umum Persepar Palangkaraya ini seolah ingin menegaskan kalau isu perubahan yang diusung Kubu Jenggala bersama Kelompok 78 bukan sekedar janji kosong menjelang pemilihan.

Setelah kepengurusan baru PSSI dikuasai penuh oleh kubu properubahan, hadirnya Tuty Dau diharap membawa angin positif bagi perkembangan sepak bola wanita. Kebetulan tahun ini digelar Piala Dunia Wanita di Jerman. Sama seperti pesepak bola pria, saya kok yakin pesepak bola wanita di seantero tanah air juga punya impian tampil di kejuaraan antarnegara tertinggi sejagat tersebut.

Persoalannya, sepak bola wanita di Indonesia terlihat hanya menjadi pelengkap. Tidak jelas bagaimana konsep pembinaannya, apatah lagi target yang dituju ke depan. Boro-boro mengikuti Piala Dunia Wanita, kompetisi lokal sepak bola wanita yang digelar secara reguler saja tak ada.

LSI Wanita

Setali tiga uang dengan itu, klub-klub peserta LSI pun tak punya perhatian khusus terhadap pembinaan sepak bola wanita. Ini berbeda dengan liga-liga di Eropa, di mana tiap tim rata-rata mempunyai tim wanita. Contohnya Arsenal yang punya tim wanita bernama sama di liga wanita Inggris. Bahkan Tasmania, negara otonomi di bawah naungan Australia, memiliki liga wanita yang diputar secara teratur.

Setelah kewajiban memiliki tim U-21, PT LI mungkin bisa ‘memaksa’ klub-klub peserta LSI untuk mempunyai tim wanita. Dengan demikian, secara otomatis PT LI juga memutar liga wanita. Jika kompetisi tim U-21 klub-klub LSI disebut LSI U-21, kompetisi tim wanitanya bolehlah dinamakan LSI Wanita.

Yang jadi pertanyaan, kapan LSI Wanita ini terwujud? Memang tidak bisa dalam waktu dekat, mengingat masih banyak masalah lain yang musti diprioritaskan PSSI. Solusi atas larangan penggunaan APBD untuk klub profesional, misalnya. Demikian pula penyatuan Liga Primer Indonesia dengan LSI yang masih terus dicarikan bentuk terbaiknya.

Meski demikian, wacana ini tidak lantas boleh disingkirkan begitu saja. PSSI yang kini salah satu anggota Komeknya seorang wanita, setidaknya harus mulai merintis jalan menuju terwujudnya sebuah liga wanita. Ini bakal butuh proses panjang. Karena itu, kalau tidak bergerak dari sekarang impian melihat timnas Indonesia di Piala Dunia Wanita tidak bakal terwujud.

Ayo, Tuty Dau! Wanita-wanita Indonesia di belakangmu!

Ratna Dewi,

pengagum RA Kartini dan Mia Hamm.

1 Comments
Agu 06

Sepak Bola dan Buku

Published By bungeko under Feature, Opini  Tags: buku, sepak bola  

DENGAN jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, Indonesia menjadi pasar potensial bagi industri sepak bola. Namun, penetrasi pasar yang dilakukan ke publik sepak bola Indonesia baru sebatas penayangan siaran langsung, highlight turnamen, plus kuis.

Selain Djarum Indonesia Super League dan Liga Primer Indonesia, saat ini tercatat tiga liga domestik asing yang meramaikan layar kaca Indonesia; Serie A (Indosiar), La Liga (tvone), dan Premiership (Global TV dan MNC TV). Ini belum ditambah Liga Champions Eropa, Europa League, Copa Libertadores, Liga Champions Asia, dan AFC Cup.

Selain siaran langsung, berita-berita sepak bola juga bisa diikuti lewat beragam tabloid dan majalah olahraga. Jenisnya memang tabloid atau majalah olahraga, tapi isinya lebih banyak tentang sepak bola. Surat kabar umum juga menyediakan lembar khusus olahraga yang lagi-lagi didominasi berita-berita dari lapangan hijau.

Di tengah maraknya usaha memanjakan publik bola, masih ada satu slot yang kurang dilirik. Apa itu? Buku-buku sepak bola. Entah mengapa sebabnya tak banyak penerbit yang mau memproduksi buku sepak bola. Buku-buku sepak bola yang beredar kebanyakan hanya diterbitkan menjelang berlangsungnya event-event besar. Isinya pun lebih berupa panduan turnamen dan prediksi.

Hal ini berbanding lurus dengan tidak banyaknya penulis yang tertarik menulis buku sepak bola. Kolomnis senior Sindhunata dengan trilogi sepak bolanya yang diterbitkan Penerbit Kompas beberapa tahun lalu, dan sejumlah kecil wartawan olahraga yang banyak menulis profil pesepak bola dunia menjadi pengecualian.

Pasar Potensial
Kondisi ini mengherankan. Kenapa? Publik sepak bola Indonesia sangat besar. Dari total populasi 230 juta jiwa lebih, taruh kata 10% diantaranya adalah penggila bola. Itu berarti ada sekitar 23 juta orang yang menyukai sepak bola di negara ini. Dari perkiraan angka itu, kita misalkan saja yang hobi membaca sebanyak 1% atau 230 ribu orang. Wow, jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuat sebuah buku menjadi best seller.

Jika penerbit hendak memakai hitung-hitungan bisnis dan untung-rugi, peluang pasar sejumlah 230 ribu orang sungguh sangat sayang untuk disia-siakan begitu saja. Kalau umumnya sekali terbit minimal dicetak 3.000 eksemplar, berarti penerbit bisa mencetak ulang lebih dari 76 kali untuk memenuhi kebutuhan 230 ribu orang tadi. Padahal cetak ulang lima kali saja untungnya sudah berlipat-lipat.

Memang harus diakui minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Tapi dengan pendekatan tertentu, semisal mengangkat sisi human interest atau bersifat menghibur dan ringan, paling tidak cetakan pertama habis terjual. Bukankah ada banyak kejadian-kejadian menarik dalam dunia sepak bola? Bukankah dalam sepak bola juga kerap tercipta drama-drama menegangkan sekaligus mengharukan?

Oke, tabloid dan majalah sepak bola memang banyak. Tapi media seperti itu sifatnya umum. Untuk pembahasan kasus secara lebih detil serta mendalam dibutuhkan uraian lebih panjang dan data-data lebih banyak dengan halaman yang lebih banyak pula. Halaman tabloid dan majalah dibatasi sehingga laporannya juga terbatas. Lain halnya dengan buku yang halamannya terbatas. Sebuah kasus dapat dibahas tuntas tanpa harus dipusingkan berapa jumlah kolom yang masih tersisa.

Hal ini berbeda dengan di Eropa, khususnya negara-negara dengan tradisi sepak bola kuat, di mana buku-buku sepak bola banyak diterbitkan. Mulai dari biografi pemain—baik pemain legendaris dunia atau sekedar ikon lokal, baik masih aktif maupun sudah pensiun; ada juga kisah dan sejarah perjalanan sebuah klub, atau tokoh-tokoh lapangan hijau nonpemain seperti pelatih terkenal dan kelompok suporter tertentu.

Tak berhenti sampai di situ saja. Film-film berbau sepak bola juga banyak dirilis. Sebut saja Victory yang berlatar-belakang Perang Dunia dan melibatkan Pele. Lantas ada Bend It Like Beckham yang kisahnya lebih meremaja. Dari Hongkong, Stephen Chow turut meramaikan pasar dengan karya sensasionalnya yang super kocak, Shaolin Soccer. Film sepak bola yang terhitung baru adalah trilogi Goal, menceritakan perjuangan seorang pesepak bola kampungan yang merintis karir sebagai pemain dunia di klub Newcastle United, Real Madrid, dan kemudian tampil di Piala Dunia.

Indonesia sendiri baru punya Garuda di Dadaku, Romeo-Juliet, serta beberapa film dokumenter berkategori indie karya Andi Yusuf Bachtiar.

Sumber Pemasukan Klub
Penerbitan buku dapat membuat industri sepak bola jadi lebih berkembang. Ini juga bisa menambah pemasukan klub, tak hanya terbatas pada penjualan tiket pertandingan atau merchandise klub.

Perkembangan industri sepak bola terbukti sangat mendorong peningkatan kualitas sepak bola itu sendiri. Karena dalam industri hanya yang terbaik yang bisa bertahan, suasana akan menjadi sangat kompetitif baik di dalam maupun di luar lapangan. Dan ini baik bagi sebuah kompetisi. Fakta membuktikan bahwa pemain-pemain terbaik hanya lahir dari kompetisi yang ketat dan berkualitas.

Kembali ke buku, masih banyak cerita seputar dunia sepak bola yang belum diangkat. Kisah perseteruan abadi Inggris-Argentina yang meletup sejak Perang Falkland, misalnya. Atau kematian tragis bek Kolombia, Andreas Escobar, di Piala Dunia 1994. Kisah-kisah seperti itu akan sangat memancing keingintahuan pembaca, terlebih bila kemasan bahasanya menawan serta didukung data-fakta valid dan lengkap.

Indonesia sendiri menyimpan banyak kisah menarik. Sejarah perjalanan sepak bola nasional pada masa kolonial Belanda dan Jepang dapat diolah menjadi bacaan bagus. Atau kasus transfer termurah di dunia saat Indriyanto Nugroho dijual Arseto Solo ke Pelita Jaya senilai Rp100 pada 1996. Sosok pemain seperti Kardono, Rocky Puttiray, Ronny Pattinassarany, Bambang Pamungkas, Cristian Gonzales, atau Irfan Bachdim rasanya pantas dibuatkan biografi. Untuk klub, profil PSIS, Semarang United, Persebaya 1927, Persija, PSM Makassar, atau Persib akan banyak diburu penggemarnya. Persoalannya, siapa yang mau menulisnya?

Bicara manfaat, banyak hal positif dapat dipelajari dari sepak bola. Semangat pantang menyerah, kekompakan tim, sportivitas, sampai sikap lapang dada menerima kekalahan. Jika semua itu dapat ditularkan pada insan sepak bola tanah air, kondisi Liga Indonesia yang penuh karut-marut dapat diperbaiki.

Pemain akan merasa malu memukul wasit atau mogok bertanding dengan dalih nonteknis yang terkesan dicari-cari. Demikian juga perilaku pengurus PSSI yang arogan padahal miskin prestasi, rasanya akan lebih elegan jika dikritik melalui buku.

Ingat, buku dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Membaca banyak hal positif membuat orang terdorong untuk berlaku positif pula. Jika saat ini banyak pihak sibuk mencari cara untuk memperbaiki iklim persepak-bolaan nasional yang masih amburadul, menerbitkan buku-buku sepak bola yang menularkan semangat fair play mungkin bisa jadi salah satu solusinya.

Siapa mau memulai?

Eko Nurhuda,
http://www.bungeko.com
blogger pecinta sepak bola.

1 Comments
  • Kalender
    Mei 2012
    S S R K J S M
    « Agu    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Kategori
    • Opini (1)
    • Feature (1)
    • PSSI Watch (2)
  • Halaman
    • About
  • Arsip
    • Agustus 2011 (3)
  • Komentar Terakhir
  • Hot Topics
  • Popular Tags
    Arifin Panigoro buku PSSI sepak bola
  • Blogroll
    • WordPress.com
    • WordPress.org
  • Meta
    • Log in
    • WordPress
    • XHTML
    • CSS
  • Blogdetik.com
  • Daftar Blog