BANYAK jalan menuju Roma. Mungkin inilah yang menjadi prinsip Arifin Panigoro (AP) dan George Toisutta (GT) beserta gerombolannya. Demi ambisi menguasai PSSI, mereka mau bersusah-payah menempuh segala macam cara, sekalipun menabrak aturan.
Ibarat aliran air, AP-GT dan G-78 tidak mau langkahnya dihambat oleh siapapun. Cobalah halangi aliran air. Ditutup dari depan, air akan berganti arah ke samping dan mencari jalan lain. Sumbatlah seluruh jalan di depan dan kiri-kanannya, maka air akan meluap naik ke atas untuk melewati penghalangnya. Dibendung habis sekalipun air masih bisa mengalir, meski hanya berupa rembesan kecil.
Demikian juga dengan AP-GT plus G-78. Setelah CAS dianggap tidak bisa diharapkan untuk menggoyang ketetapan FIFA yang melarang AP-GT maju dalam pemilihan ketua umum PSSI 2011-2015, mereka mendatangkan Prince Ali bin al-Hussein, salah satu Wakil Presiden FIFA.
Bin Hammam Kedua?
Memakai kacamata paling awam sekalipun jelas terbaca apa tujuan kubu Jenggala mendatangkan pangeran dari Yordania tersebut. Sebagai Wakil Presiden FIFA, Prince Ali diharapkan bisa membuat FIFA berubah sikap. Pertanyaannya, apakah di FIFA juga mengenal birokrasi kolutif seperti di Indonesia?
Sayangnya, AP nampaknya kembali harus gigit jari. Meski memegang jabatan tertinggi kedua di FIFA, nyatanya Prince Ali tak memahami apa yang terjadi di PSSI. Ini terlihat ketika ia bertanya kenapa AP dan GT tidak boleh maju dalam kongres kepada Ketua Komite Normalisasi, Agum Gumelar.
Alih-alih membantu masalah AP, bisa jadi malah Prince Ali yang dapat masalah. Jika Sepp Blatter menganggap wakilnya itu menyimpang dari koridor FIFA, nasib sang pangeran besar kemungkinan bakal seperti Mohammed bin Hammam (Presiden AFC) dan Jack Warner (Presiden CFU-Concacaf).
Peluang ke arah itu amat besar. Bila Bin Hammam dan Warner dihukum Komite Etik FIFA karena pendekatan ilegal ke sejumlah pemilik hak suara yang mengarah pada penyuapan, Prince Ali dapat dijerat dengan kasus pelanggaran Statuta FIFA. Pencekalan AP-GT adalah keputusan final FIFA, dan secara tersirat sang pangeran bermaksud melawan keputusan tersebut. Tindakan ini tentu saja tidak dapat dibenarkan, karena sebagai wakil presiden FIFA ia seharusnya mendukung kewibawaan FIFA dengan menegakkan keputusan tersebut.
Belajar dari Nirwan Bakrie
Bagi AP sendiri, mendatangkan Prince Ali untuk menolong kepentingannya semakin membuat publik merasa antipati. Ya, di satu sisi kita dibuat kagum dengan kegigihan pengusaha Bandung ini. Tapi di sisi lain, dugaan bahwa majunya AP merupakan kepentingan kelompok politik tertentu menjadi tambah jelas terlihat.
Ada baiknya AP belajar dari Nirwan Bakrie (NB). Ketika dilarang FIFA maju dalam pencalonan ketua umum PSSI, NB dengan besar hati menerima keputusan tersebut. Ia bahkan mendatangi KN untuk memberikan dukungan moral, sekaligus mengatakan dirinya tetap berkomitmen memajukan sepak bola nasional meski tak duduk di kepengurusan PSSI.
Tak sekedar lip service, NB membuktikan ucapannya dengan terus membiayai program SAD di Uruguay. Ia juga bersedia membantu membayar sebagian gaji pelatih timnas Alfred Riedl yang tak kuat ditanggung sendirian oleh Satlak Prima. Dan, demi membuka jalan bagi pesepak bola nasional ke pentas Eropa, klub Liga Belgia pun ia beli melalui salah satu unit usahanya.
Jika benar-benar ingin memajukan sepak bola nasional, seharusnya AP sadar bahwa mematuhi keputusan FIFA adalah langkah terbaik. Ingat, banyak jalan menuju Roma. Memajukan sepak bola nasional tak harus dengan menjadi ketua umum PSSI.
Eko Nurhuda,
http://www.bungeko.com
blogger, pecinta sepak bola.